Sampingan

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya;
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.
Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”.
(Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“.
(Ali Imran, 119)

Ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi tujuannya adalah agar mencintai kaum Yahudi dan rela mereka menjadi pemimpin dunia. Padahal mereka adalah kaum yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla Baca lebih lanjut

Lakukan Tashfiyah, Tanqiyah dari pengaruh ghazwul fikri kaum Yahudi

Sampingan

Beberapa diantaranya  Sifat Munafik Yang Ada Dalam Hati Kita:

  • Dusta
  • Khianat
  • Fujur dalam Pertikaian
  • Mungkir dan Ingkar Janji
  • Malas Beribadah
  • Riya
  • Mencela Orang-Orang yang Taat dan Sholeh
  • Memperolok-olokkan Al Quran, As Sunnah, dan Rasulullah saw
  • Bersumpah Palsu
  • Suka Menyebakan Kabar Dusta
  • Mengingkari Takdir
  • Mencaci maki Kehormatan Orang-Orang Sholeh
  • Membuat Kerusakan di Muka Bumi dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
  • Tidak Ada Kesesuaian antara Zahir dengan Batin
  • Lebih Memperhatikan Zahir, Mengabaikan Batin
  • Sombong dalam Berbicara
  • Tidak Memahami Islam (Ad Din)
  • Bersembunyi dari Manusia dan Menantang Allah dengan Dosa
  • Senang dengan Musibah yang Menimpa Orang-Orang Beriman dan Dengki Terhadap Kebahagiaan Mereka

Semoga kita perbaiki kelemahan kita dan menjadi Hamba Allah yg lebih taat dan patuh dan bersungguh-sungguh.

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit lalu tumbuhlah dengan suburnya kerana air itutanaman di bumi, antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak.

Hingga apabila bumi itu sudah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemiliknya mengira bahawa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanamannya) laksana tanam-tanamannya yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kelmarin.

Demikianlah Kami menjelaskan tanda kekuasaan (Kami)kepada orang yang berfikir, Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (syura), dan menunjukkan orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” – (Surah Yunus, ayat 24-25)

Yang Ada Dalam Hati Kita

Sampingan

Ketahuilah bahwa semua maksiat dalam bentuk apapun adalah merupakan racun bagi hati penyebab sakitnya hati bahkan juga penyebab matinya hati. Berkata Abdullah Ibnu Mubarak “Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya. Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar.

Racun-racun hati itu banyak macamnya di antaranya adalah berlebih-lebihan bicara atau fudhulul kalam. Dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya. Maka lurus dan istiqamahnya hati dalam memegang keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah. Oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah karena akan mengakibatkan kerasnya hati.

Dalam salah satu hadits shahih Rasulullah pernah bicara kepada sahabat Mu’adz “Apakah engkau mau aku tunjukkan yang menjadi landasan itu semua ?” “Baik ya Rasulullah” jawab Mu’adz. Kemudian Rasulullah ` bersabda “Cegahlah ini” lalu mu’adz berkata “Ya Rasulullah apakah kita akan dimintai tanggung jawab dari apa yang kita ucapkan?” Kemudian Rasulullah ` bersabda “Semobrono kamu wahai Mu’adz tidaklah seseorang akan ditelungkupkan wajahnya dan punggungnya ke dalam Neraka melainkan karena hasil dari lisannya.” . “Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka yaitu mulut dan kemaluan.” .

Kemudian dalam riwayat lain Rasulullah ` bersabda “Sesungguhnya ada seorang laki-laki mengucapkan sepatah kata yang dianggap tidak apa-apa tetapi ternyata bisa menjerumuskannya ke dalam Neraka sampai tujuh puluh tahun.” .

Dan tatkala Uqban bin Amir bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah apakah sesuatu yang dapat menyelematkan kita?” Lalu dijawab oleh Nabi ` “Tahanlah olehmu lisanmu.

Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah ` bersabda “Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya dan kedua pahanya maka aku jamin untuknya Surga.” .

Maksud dalam hadits ini barangsiapa yang bisa memelihara apa yang ada di antara kedua bibirnya yaitu mulut dari semua perkataan yang tidak bermanfaat dan bisa menjaga apa yang ada di antara kedua pahanya yaitu farji agar tidak diletakkan di tempat yang tidak dihalalkan Allah maka jaminannya adalah Surga. Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah ` juga bersabda “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat hendaklah berbicara yang baik atau agar ia diam.” .

Dan dalam sutau riwayat dari Abu Hurairah Rasulullah ` bersabda “Sebagian dari tanda bagusnya Islam seseorang apabila ia bisa meninggalkan ucapan yang tidak berguna baginya.” Berkata Sahl “Barangsiapa yang masih suka bicara yang tidak berguna maka ia tidak layak dikatakan shiddiq“. Apalagi bila ucapan seseorang sampai menyakiti orang lain maka belum bisa dijadikan jaminan iman yang dimilikinya sebagaimana sabda Rasulullah ` “Demi Allah tidaklah beriman demi Allah tidaklah beriman” kemudian ditanyakan; siapakah gerangan yang engkau maksudkan wahai Rasulullah? Jawabnya “orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman lantaran kejahatannya.

Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin mencukupkan diri dari ucapan yang tidak berguna seperti; berdusta suka mengadu domba ucapan yang keji ghibah namimah suka mencela bernyanyi menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Itu semua merupakan racun-racun hati sehingga apabila seseorang banyak melakukan seperti ini maka hati akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati semakin banyak racunnya akan semakin parah penyakit dalam hatinya dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan mati hatinya.

Macam-macam hati Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukannya kelak di akhirat sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya pendengaran penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” . Baca lebih lanjut

Bersihkan diri dari racun-racun hati

Karakter Orang Munafik

Gambar

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berseteru dia berbuat kefajiran”. (HR. Al-Bukhari no. 89 dan Muslim no. 58)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Penjelasan ringkas:
Ciri-ciri orang munafik sangat banyak tersebut di dalam Al-Qur`an, dan Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam juga menyebutkan sebagian di antaranya guna memperingatkan umatnya dari ciri-ciri tersebut, jangan sampai mereka terjatuh ke dalamnya sehingga mereka akhirnya menjadi mirip seperti mereka. Padahal sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyatakan bahwa barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.

Di antara tanda-tanda kemunafikan adalah empat sifat yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Amr di atas: Khianat, curang, dusta, dan fajir. Keempat sifat ini tidaklah terdapat pada seseorang kecuali dia adalah munafik tulen. Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan sebuah tanda lain dari tanda-tanda orang munafik, yaitu: Sangat berat dalam melaksanakan shalat isya dan subuh. Subhanallah, betapa miripnya kemarin dengan hari ini. Di zaman ini banyak di antara kaum muslimin yang masih bersifat dengan sifat ini, mereka merasa berat mengerjakan kedua shalat ini dengan alasan lelah atau ngantuk sepulang kerja atau alasan lainnya, wallahul Musta’an.

Karenanya wajib atas setiap muslim untuk mengetahui kelima ciri munafik di atas dan ciri-ciri lainnya agar dia bisa menjaga dirinya darinya, karena barangsiapa yang tidak mengetahui suatu kejelekan maka kemungkinan besar dia akan terjatuh ke dalamnya.

Sampingan

oleh KH Ahmad Mukhri Aji

Allah SWT tidaklah menciptkan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya (QS Adz Dzariyat [51]: 56). Dan kesempatan hidup yang diberikan-Nya, hanya dalam rentangan waktu singkat, yang senantiasa digunakan untuk berbuat amal shaleh dan kebajikan.

Hidup di dunia merupakan perjalanan sementara, sebelum akhirnya semua akan tiba di pengunjung batas tujuan, akhirat. Al Qur’an menyatakan, “Tidalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main, dan sesungguhnya akhirat ialah yang sebenarnya kehidupan.” (QS Al-Ankabut [29]: 64).

Al Qur’an juga memberikan perumpamaan kehidupan dunia seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan terlihat warna kuningnya, kemudian menjadi hancur (QS Al-Hadid [57]: 20).

Terlalu banyak manusia yang silau oleh kemilau dunia, mengejar sesuatu yang seharusnya tidak dikejar. Saling menyikut dan menjatuhkan dengan menghalalkan segala cara, demi meraih tahta jabatan, dan harta kekayaan. Padahal, semua itu hanyalah sementara, tidak setia, dan akan terpisah darinya saat kematian datang menjemput.

Malaikat Jibril pernah datang mengingatkan Nabi SAW, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah darinya.” (HR Ath-Thabrabi).

Begitu dasyatnya pesona dunia, hingga Rasulullah pun sangat mengkhawatirkan umatnya akan terperosok dalam gemerlapnya. Sabda Nabi SAW, “Bukanlah kemusyirkan yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi yang aku khwatarikan atas kalian adalah perhiasan kehidupan dunia.” (HR Bukhari).

Apa yang dikhawatirkan Nabi menjadi nyata. Banyak umatnya yang terbelenggu dalam penyakit cintai dunia. Mereka lupa bahwa kelak akan dipanggil mengadap Sang Khalik untuk mempertanggungjwabkan segala apa yang telah dikerjakan.

Itulah fatamorgana kehidupan, hanya sebatas hiasan semu yang menyesatkan dan menjadi jebakan. Seiring berjalan dan berputarnya roda waktu, kita hanya mampu berharap agar mendapat kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat. “Ya Tuham Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 201).

Sumber: Republika Sabtu 07 Nopember 2009

Fatamorgana Kehidupan