Sampingan

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda yang pemahamannya sering salah paham.  Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyyah” (maksudnya: suka berdalil dengan Al Qur’an dan Hadits). Sedangkan Iman mereka tidak melampaui tenggorokan mereka.
Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu perangilah mereka (luruskan pemahaman mereka).” (Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari 3342).

Mereka bertanya siapakah yang dimaksud jumhur ulama pada zaman sekarang ?

Jumhur ulama adalah :

  1. Para Habib dan Para Sayyid yang mendapatkan pendidikan agama langsung dari bapak, kakek mereka yang terdahulu sampai kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Segelintir umat muslim mulai melupakan para Habib dan para Sayyid.
  2. Ulama para pengikut Imam Mazhab yang empat.

Contoh rantai sanad Imam Asy Syafi’i :
1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
3. Al-Imam Nafi’,Tabi’ Abdullah bin Umar ra
4. Al-Imam Malik bin Anas ra
5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra

Ulama pengikut Imam Mazhab adalah ulama yang mempertahankan rantai sanad ilmu atau sanad guru

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Pada hakikatnya mereka yang tidak lagi mau mengikuti pendapat atau hasil ijtihad para Imam Mazhab adalah mereka yang memutuskan rantai sanad guru atau sanad Ilmu karena mengikuti hasi ijtihad sendiri atau mengikuti hasil ijtihad ulama mereka yang memahami secara otodidak yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid.

Memang mereka yang belajar secara otodidak membaca Al Qur’an , kitab tafisr bil matsur, kitab hadits shohih, musnad maupun sunan lalu mereka pun berjtihad dengan pendapat mereka. Apa yang mereka katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu mereka sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang ulama-ulama mereka sampaikan semata-mata lahir dari kepala mereka sendiri.

Kesalahpahaman besar telah terjadi ketika ulama-ulama mereka mengatakan bahwa apa yang mereka pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh.

Jika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh tentu tidaklah masalah namun ketika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh maka pada hakikatnya ini termasuk fitnah terhadap para Salafush Sholeh.

Ditengarai gerakan agar kaum muslim merujuk atau memahami Al Qur’an dan Hadits dengan akal pikiran masing-masing adalah merupakan ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan melalui pusat-pusat kajian Islam yang didirikan oleh kaum non muslim, orientalis yang dibelakang mereka adalah kaum Zionis Yahudi. Mereka mengupayakan agar pintu ijtihad dibuka seluas-luasnya. Mereka mendiskreditkan para Imam Mazhab yang empat.

Protokol Zionis yang ketujuhbelas …Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi (contohnya para Imam Mazhab yang empat) dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama  telah dikumandangkan diman-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan.. 

Bagi kaum muslim yang belajar ke “barat” kemungkinan besar akan terpengaruh pola pemahaman (ijtihad) ala paham Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalism yakni pemahaman yang sebebas-bebasnya disesuaikan dengan kebutuhan (pragmatis) dan menyesuaikan dengan keadaan zaman sekarang.

Sedangkan bagi kaum muslim yang belajar ke “timur” kemungkinan besar akan terpengaruh pola pemahaman (ijtihad) ala pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah atau ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yakni pemahaman secara harfiah/dzahir atau apa yang tertulis/tersurat, yang kami katakan sebagai pemahaman dengan metodologi “terjemahkan saja”. Padahal banyak nash-nash Al Qur’an dan Hadits berbeda antara terjemahan dengan makna sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/12/20/2011/09/21/terjemahan-dan-makna/

Beberapa ghazwul fikri mempengaruhi segelintir kaum muslim

Mereka berdalil tapi tidak mengikuti pemahaman Jumhur Ulama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s