Syeikh Muhammad Arsyad salah seorang Jawi yang mengajar di Masjidil Haram

Karena kecerdasan dan kecakapannya dalam menyelesaikan berbagai masalah, ditambah pula sifat-sifat terpuji yang dimilikinya sejak kecil, maka ia mendapat kepercayaan dari guru-gurunya yang mengajarnya untuk memberikan pelajaran di Masjidil Haram, maka termasuklah ia salah seorang Jawi yang mengajar di Masjidil Haram dengan sebutan seorang syeikh.

Setelah kurang lebih 30 tahun menuntut ilmu di tanah suci Makkah dan lima tahun di kota Madinah, tibalah saatnya kembali ke tanah air untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang ia dapat dari guru-gurunya yang mengajar di tanah suci.

Kedatangannya pada bulan Ramadhan 1186 H./ Desember 1772 M., disambut masyarakat dan keluarga dengan penuh gembira. Sejak saat itu ia mulai mengintiensifkan dakwah pembinaan kader ulama melalui perkampungan khusus di desa Dalam Pagar, Martapura. Di samping aktif mengajar dan mendidik anak cucu serta murid atau santri yang datang dari berbagai daerah, ia juga berdakwah ke segenap lapisan masyarakat. Suaranya menggema ke segenap pelosok, membahana memecah angkasa sebagai pengukuh terhadap suara-­suara masyarakat. Juga sebagai pengukuh terhadap suara-suara juru dakwah yang ia kirim ke berbagai tempat dan daerah.

Keberhasilan dakwah Syeikh Muhammad Arsyad adalah disebabkan kemampuannya dalam meletakkan strategi dakwah dengan jalan menyatu dengan kelompok objek dakwah, meningkatkan kaderisasi dan regenerasi da’i, turut berperan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat serta mengikut sertakan pengaruh kekuasaan kerajaan.

Dalam menyampaikan dakwahnya, ia menggunakan berbagai metode dan sarana yang saling menunjang agar sasaran yang dituju dapat tersentuh dengan tepat. Dengan metode bilhal atau lisanulhal, hasilnya sangat mewarnai jiwa anak didik dan dapat merubah pola pikir dan perbuatannya ke arah kebajikan dan amal ibadah mereka dalam waktu yang relatif singkat. Dengan dakwah billisan ia memang sudah memulainya sejak kedatangannya di Martapura. Di sisi lain ia juga sebagai penasehat di kalangan istana, maka termasuklah Sultan Tahmidullah II menjadi salah seorang muridnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s