SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

datu_palampayan

Pengarang Kitab Fikih Melayu yang Monumental

Sekitar tahun 1700 -1734 M, yaitu pada masa kekuasaan Sultan Hamidullah atau Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah (Amirullah Bagus Kusuma) tinggallah seorang pemuda yang saleh di kampung Lok Gabang (dekat Martapura) bernama Abdullah bin Abu Bakar bin Abdul Rasyid (Abdul Harist).

Abdullah hidup tenteram dan berbahagia bersama isteri tercinta bernama Aminah. Mereka berdua merupakan pasangan suami isteri yang sangat ideal, disayangi dan dihormati masyarakat serta dikasihi oleh sultan yang berkuasa ketika itu, namun kebahagiaan, ketenteraman dan hidup dalam keadaan berkecukupan tersebut, masih ada saja yang membuatnya kekurangan dan kesepian, yakni keduanya belum dikaruniai seorang anak.

Dengan penuh kesungguhan memohon kepada Allah. swt. agar mereka dikaruniai seorang anak yang saleh akhirnya terkabul. Pada saat kehamilannya mereka berdua mendapat nikmat yang sangat luar biasa, yaitu malam yang penuh berkah yang dikenal dengan Lailatul Qadar.

Kesempatan itu ia gunakan dengan memperbanyak ibadah dan bermunajat kepada Tuhan Allah, Rabbul ‘Izzah wal Jalal, agar anak yang sedang dikandung menjadi seorang anak yang berpengetahuan dan berakhlak mulia.

Alangkah behagia hati mereka sehingga keduanya selalu memanjatkan pujian syukur kepada Allah serta meningkatkan ibadah sebagai realisasi atau perwujudan rasa syukur terhadap nikmat Allah yang diterimanya.

Permohonan yang selalu dipanjatkan mereka berdua membuahkan hasil. Pada malam Kamis jam tiga dini hari tanggal 15 Shafar 1227 H./19 Maret 1710 M., lahirlah seorang putera yang sangat dirindukan, bayi yang sangat tampan dan mungil, keduanya memberi nama dengan Muhammad Ja’far yang setelah remaja diganti dengan nama Muhammad Arsyad.

Keduanya memberikan pendidikan yang baik, pertama yang diberikan kepadanya pelajaran membaca dan menulis al-Qur’an. Dikarenakan kecerdasan yang dimilikinya, maka ketika usianya menginjak tujuh tahun, sang sultan tertarik untuk mengasuh dan memberikan pendidikan ilmu agama di dalam istana.

Dengan izin kedua orang tuanya sang sultan membawa ke istana untuk digembleng agar menjadi orang yang berpengetahuan. Setelah menginjak usia dewasa, sekitar umur tiga puluh tahun, ia dikawinkan oleh sultan dengan seorang warga istana yang dikenal sebagai perempuan yang taat dalam beragama yang bernama Bajut.

Pada saat isterinya sedang mengandung tua, tibalah masa janji Sultan Tahlilullah untuk memberangkatkannya ke tanah suci Makkah, guna menunaikan ibadah haji serta ditugaskan pula untuk menuntut ilmu dengan biaya kesultanan yang tentunya diharapkan di kemudian hari ilmu yang sudah diperoleh itu dapat disebarkan dalam wilayah Kerajaan Banjar.

Iklan

2 comments on “SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

    • Trima kasih mas Topan telah menyempatkan waktunya u/ mampir di blog saya dan terimakasih atas suportnya.

      salam dan sukses selalu buat mas topan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s