mari TAFAKUR….

“Lihat segalannya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana. Mengapa bintang bersinar…mengapa air mengalir…mengapa dunia berputar…Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti.” (petualangan Sherina)

Terlepas bagaimana ia disenandungkan, kalimat indah itu muncul dari seorang anak kecil yang masih suci dengan fitrah. Kalimat diatas nampaknya bisa menjadi pengingat kita bahwa apa yang ada di hadapan kita, di alam ini, tentu tidak dengan polos dan tanpa maksud.

Sepolos Sherina menyenandungkannya. Pasti ada hikmah dan rahasia. Hikmah dan rahasia tersebut dapat disingkap dengan aktivitas yang dengan kalimat sederhana diatas, diwakili dengan kata ‘lihat-segalanya-lebih dekat’.

Bagi kita selaku muslim tentunya kalimat itu mempresentasikan proses ‘tafakur’ yang di ajarkan Allah SWT dan bernilai ibadah. Ia sekaligus melambangkan kecerdasan dan keutamaan seorang muslim. “….berfikir adalah prinsip dan kunci dari seluruh kebaikan. Ia adalah aktivitas hati yang paling utama dan paling bermanfaat”. (Ibnu Qayyim, Miftah Daar-As Sa’adah).

Dengannya kita dapat memahami, bahwa tafakur adalah fitrah. Para ahli Psikologi sekarang telah berhasil menemukan bahwa setiap aktivitas baik kebaikan maupun kejahatan diawali dengan aktivitas pengetahuan internal, seperti khayalan maupun emosi. Mereka juga berhasil menemukan bahwa jika aktivitas pengetahuan ini ditambah kekuatannya (mendapat reinforcement), ia akan menjelma menjadi pendorong bagi lahirnya perilaku.

Apabila seorang individu terus mengulangi tindakan yang di dahului dorongan tadi, saat itu pula pikiran-pikiran internal memperoleh kekuatan untuk melakukan tindakan tersebut secara otomatis sehingga ia menjadi kebiasaan yang permanen. Meskipun hal ini adalah temuan mutakhir dalam dunia psikologi dengan tema berfikir, namun sebenarnya hal di atas bukanlah sesuatu yang baru bagi para cendikiawan muslim masa lalu.

Lama sebelum temuan mutakhir tersebut ditemukan, Ibnu Qayyim dalam buku “Al-Fawaid” telah memaparkan pendapat serupa, “Lawanlah lintasan itu! Jika dibiarkan, ia akan menjadi fikrah (gagasan). Lawanlah fikrah itu, jika tidak ia akan menjadi syahwat (kemauan). Perangilah syahwat, jika tidak, ia akan menjadi ‘azimah (hasrat, tekad). Apabila ini juga tidak dilakukan, ia akan menjadi perbuatan. Dan jika perbuatan itu tidak anda temukan lawannya maka ia akan menjadi kebiasaan dan setelah itu sulit bagi anda untuk meninggalkannya.”

Sumber : http://pakbossbp.wordpress.com/2009/03/19/mari-tafakur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s